Bolagaul.com, Berlin – Valentino Rossi merupakan salah satu pebalap terbaik sepanjang sejarah balap motor dunia. Koleksi sembilan titel kejuaraan dunia balap motor grand prix menjadi bukti sahih kehebatan The Doctor.

Rossi memiliki bakat alami. Talenta pebalap asal Italia itu semakin terasah berkat didikan sang ayah yang juga pernah menjadi pebalap, Graziano.

Rossi berkembang menjadi lebih hebat lagi juga karena belajar dari pebalap lain. Menariknya, tak banyak yang tahu bahwa salah satu mentor Rossi saat dia masih muda adalah pebalap Jepang bernama Haruchika Aoki.

Rossi pertama kali bertemu Aoki pada 1995. Keduanya berkenalan lewat perantara seorang teman.

Aoki berasal dari keluarga pebalap. Kedua kakaknya, Nobuatsu dan Takuma, juga merupakan pebalap grand prix. Demi karier, ketiganya tinggal di Italia.

Kala itu, Rossi masih balapan pada ajang balap Italian dan European Championship. Sementara itu, Aoki sedang menjalani musim ketiga di kelas 125cc.

Pada beberapa race weekend, ajang European Championship digelar bersamaan dengan balapan grand prix. Pada saat itulah Aoki mulai membimbing Rossi.

“Vale itu anak muda yang sangat baik dan menyenangkan, jadi saya memperlakukan dia dengan baik. Saya memberikan masukan kepada dia tentang cara menyalip yang bagus dan membuat perencanaan lomba yang baik,” kata Aoki seperti dikutip dari Motorsport-Magazin.

Valentino Rossi mengakui peran besar Aoki dalam perkembangan kariernya. Dia pun menjelaskan alasan mengapa memilih Aoki sebagai mentor.

“Haruchika merupakan sosok penting pada awal karier saya. Dia adalah pebalap yang cerdas bagaikan rubah. Timing-nya saat menyalip sangat luar biasa dan dia juga sangat kuat pada fase akhir lomba sehingga sulit dikalahkan. Dia selalu memberikan nasihat yang bagus buat saya,” ujar Rossi.

Rossi berada satu lintasan dengan sang mentor di kelas 125cc pada 1996. Kala itu, Rossi berstatus debutan sedangkan Aoki juara bertahan setelah merebut titel musim 1996.

Meski rival di lintasan, Rossi dan Aoki tetap berhubungan baik. Bahkan, Aoki membiarkan Rossi mencuri ilmunya dalam balapan.

“Vale sering membuntuti saya pada sesi latihan dan juga saat lomba. Dia ingin melihat bagaimana cara saya menjaga catatan waktu putaran saya dan melakukan manajemen lomba,” kata Aoki.

“Saya ingat dalam satu balapan Valentino selalu berusaha dekat dengan saya. Jika saya menyalip pebalap di depan, dia pun melakukannya. Apabila saya melambat, dia pun melakukannya. Sangat jelas dia ingin mempelajari metodologi saya dalam balapan,” ujar Aoki.

Setelah meraih titel kelas 125cc kedua, Aoki naik ke kelas 250cc pada 1997. Rossi mengikuti jejak sang mentor setahun berselang setelah merebut gelar pertamanya pada 1997.

Namun, Aoki gagal bersinar di kelas 250cc dan 500cc. Dia pun pensiun dari balapan grand prix pada 2002 dalam usia yang masih sangat muda, yakni 26 tahun. Sebaliknya, prestasi Valentino Rossi semakin mentereng dengan merebut delapan titel lagi dan tetap awet sebagai pebalap papan atas MotoGP hingga sekarang meski sudah berusia 38 tahun.

(sumber:bola.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.